Minggu, 20 Januari 2019
Home / Pro Otonomi / Tuba / Budidaya Buah Naga Menjanjikan

Budidaya Buah Naga Menjanjikan

TULANGBAWANG - Budidaya buah naga ternyata sangat menjanjikan, disamping banyak peminat dan pembeli, omzet yang dihasilkan dalam penjualan buah ini lumayan besar. Petani mulai melirik budidaya tanaman ini. Selain pemasaran cukup menjanjikan, juga buahnya manis dan manfaat kandungan gizi dari buah naga ini cukup tinggi. Karena hasilnya yang menggiurkan itu, banyak petani di Kampung Wiratama Kecamatan Penawar Tama Kabupaten Tulang Bawang Lampung beralih usaha ke budidaya buah naga.
 
Kepala Kampung Wiratama, Sumadi, S.Pd. menuturkan, Kampung Wiratama merupakan salah satu kampung eks transmigrasi swakarsa mandiri tahun 1988/1989, yang berpenduduk 2.200-an jiwa dan 718 kepala keluarga (KK). Warga dikampungnya sudah 10 tahun ini usaha budidaya buah naga. Sejarah berawal pada 2006, sepulangnya pemuda kampung setempat yang pernah bekerja di Malaysia, mereka bekerja diperkebunan buah naga. Saat pulang dari merantau, pemuda-pemuda yang bekerja dari malaysia itu membawa bibit buah naga.
 
Setelah dilakukan analisa usaha, kata Sumadi, akhirnya warga setempat yang semula petani karet, sawit, maupun singkong, beralih menjadi petani buah naga. Karena, hitungan secara ekonominya bisa dipertanggungjawabkan. Dalam artian, si petani tidak perlu mengeluarkan cost yang tinggi, seperti berkebun karet, sawit yang bisa mengeluarkan dana puluhan juta rupiah, itupun masa tanam hingga produksinya harus menunggu 6-7 tahun.

“Sementara budidaya buah naga masa tanamnya hanya 8-9 bulan, sebulan kemudian sudah bisa panen. Bahkan juga tidak memerlukan lahan yang luas, lahan pekarangan pun bisa dimanfaatkan. Sebelumnya saya sulit memberi penyuluhan ke masyarakat untuk alih fungsi lahan pertanian warga ke tanaman buah naga, karena warga setempat sudah lebih dulu menjadi petani karet sawit dan singkong,” ulas Sumadi, S.Pd. Kakam Wiratama yang telah menjabat 2 periode ini.
 
Menurut Sumadi, tanaman buah naga mudah dalam perawatannya. Hanya perlu menyiram seminggu sekali seperti ketika musim kemarau kemarin. Saat panen setiap tanaman bisa menghasilkan 50 buah siap panen.
"Gampang hidup, kalau kemarau ya seminggu sekali disiram. Kalau pas panen, itu bisa sampai 30-50 buah. Buah naga sudah terlihat memerah tanda sudah masak. Orang-orang diluar sana bilang disini adalah “Kampung Buah Naga”, kami sangat mengapresiasi julukan tersebut, ini akan menjadi icon buat Kampung Wiratama," ujar Sumadi, yang juga Petugas Penyuluh lapangan (PPL) Swadaya di Kecamatan Penawar Tama Tuba.
 
Salah seorang anggota kelompok tani buah naga Lestari Tama Kampung Wiratama, Suyoto (53), dengan sumbringah bercerita keberhasilannya menanam buah naga, hingga ia meraup keuntungan jutaan rupiah beberapa hari lalu. Dirinya menuturkan, sebelumnya ia adalah petani karet, tetapi setelah harga karet menurun sedangkan harga pupuk mahal yang mengakibatnya ia merugi.
 
“Berkat penyuluhan yang dilakukan Pak Lurah (Sumadi, S.Pd .red), akhirnya sudah dua tahun ini saya budidaya buah naga dengan lahan hanya 0,25 hektar. Setiap panen, saya bisa menghasilkan 200 kg tiap bulannya, dengan harga Rp. 20-30rb per kilogram,” ujar Suyoto saat wartawan media ini mengunjungi kebun buah naga nya.
 
Sama halnya dengan Suyoto, Marsudi (45) yang sudah 25 tahun tinggal di Kampung Wiratama, sebelum tanam buah naga, ia petani singkong. Tetapi karena hasilnya tidak sesuai dengan cost yang dikeluarkan, malah sering merugi karena harga singkong murah, akhirnya sudah 3 tahun ini Marsudi beralih dari menanam singkong kini budidaya buah naga.
 
Dia mengatakan, tidak ada kiat-kiat khusus untuk budidayanya. Setelah masa tanam selama delapan bulan, satu bulan berikutnya sudah bisa dipanen, mulai dari berbunga hingga buah naga berwarna merah tandanya sudah matang dan siap dipetik.
 
“Budidaya buah ini tidak terlalu sulit, lahan pun tidak perlu subur. Sembilan bulan sudah panen, harganya bagus. Pasarannya bagus banyak dicari masyarakat, sebentar saja sudah ludes. Kebun milik saya, sekali panen mendapatkan 150-250 kg buah naga matang. Bahkan saya tidak perlu memasarkan hasil panennya keluar, karena pembeli datang sendiri kesini (Kampung Wiratama .red),” tutur Marsudi.
 
“Sama halnya dengan warga yang lain, saya berharap ada perhatian dari pemerintah daerah untuk peningkatan dan penguatan usaha budidaya buah naga di kampung kami ini. Karena selama ini belum ada perhatian dari pemerintah, dan budidaya yang kami tekuni saat ini adalah otodidak,” tutur marsudi anggota Kelompok Tani Lestari Tama, petani buah naga Kampung Wiratama.
 
Buah naga baru bisa dipanen setelah umur 9 bulan, panen dilakukan dengan sistem bergiliran sebulan empat kali panen. Dalam satu minggu memanen 15 batang saja, hasilnya berkisar 50 kilogram, jadi sebulan total panen 200 kilogram.
 
Tidak perlu memiliki lahan luas, cukup lahan sempit tidak menjadi kendala bagi petani di Kampung Wiratama. Dengan lahan ukuran 15x30 meter, bisa dapat menghasilkan uang Rp. 6juta per bulan dari usaha budidaya buah naga. Periode panen buah naga bisa dipanen secara bertahap. Karena panennya bertahap, jadi tidak semua langsung panen, yang sudah kembang (merah) saja bisa dipetik.
 
Kakam Wiratama mengakui, dirinya mengalami kesulitan untuk mengembangkan usaha yang sudah digelutinya selama 10 tahun oleh warga binaannya ini, supaya bisa bernilai ekonomi tinggi. Ia berharap adanya sentuhan dari pemerintah daerah untuk meningkatkan SDM warga binaannya bahkan penguatan modal usaha. Infrastruktur jalan yang belum memadai menjadi salah satu kendala untuk memasarkan keluar potensi yang ada disana.
 
Ditambahkan Sumadi, Kampung Wiratama sudah sering mengikuti ajang lomba desa yang diselenggarakan Pemkab Tulang Bawang, Pemprop hingga lomba kampung tingkat nasional mewakili kabupaten Tuba. Pada tahun 2014 lalu, Kampung Wiratama ikut lomba P3KS, dilomba itu kebun buah naga binaannya baru dimunculkan, akhirnya kampung wiratama berhasil merebut juara 3.
 
 “Dari lomba itu juga, Ibu Hj. Ade Rina Heri Wardoyo, isteri Wakil Bupati Tulang Bawang sudah melihat langsung ke kampung ini, dan Bu Ade Rina baru tahu bila di Kampung Wiratama ada budidaya buah naga. Sejak itu banyak pembeli yang datang langsung ke sini membeli buah naga,” kata Sumadi, seraya menyampaikan bahwa dikampungnya 10 kelompok binaan yang terbagi atas 8 kelompok tani dan wanita tani 2 kelompok, yang salah satunya KT. Lestari Tama khusus budidaya buah naga yang beranggotakan 60 orang.
 
Sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 6 tahun 2014 tentang Desa, tahun 2016 ini ia selaku Kakam telah melakukan terobosan untuk meningkatkan wira usaha di Wiratama yang kelak diharapkan bisa menambah PAD kampung, salah satunya untuk penguatan modal usaha kelompok budidaya buah naga yang dianggarkan dalam APBK wiratama.
 
“Sesuai dengan UU. Desa, nantinya semua kelompok tani yang ada di Kampung Wiratama akan bermuara dalam satu wadah yakni dalam badan usaha milik desa (Bumdes),” tutur Sumadi, S.Pd Kepala Kampung Wiratama, yang juga menjabat Wakil Ketua I Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Tuba.
 
Kampung Wirawatama termasuk salah satu kampung yang dilanda krisis air bersih saat datang musim kemarau panjang. Kebutuhan jalan, ada 15 kilometer, baru 1,7 kilometer yang saat ini baru diaspal, sisanya masih jalan onderlag dan jalan tanah. Akibatnya, bila musim penghujan, jalan-jalan dikampungnya becek dan berlumpur. (mus/fbi)
 
Budidaya Buah Naga Menjanjikan


Berita Terbaru
Berita Lainnya


Advertise

Klik! View Mobile Edition

Advertorial