Jumat, 24 Mei 2019
Home / Demokrasi / Damar Prihatin Kasus Kekerasan Perempuan Meningkat

Damar Prihatin Kasus Kekerasan Perempuan Meningkat

BANDARLAMPUNG - Lembaga Advokasi Perempuan Damar Lampung menyampaikan keprihatinan atas kasus kekerasan terhadap perempuan yang masih terus terjadi dan cenderung semakin meningkat.

"Bertepatan dengan peringatan Hari Anti-Kekerasan Seksual dan Hari Kasih Sayang ini, Lembaga Advokasi Perempuan Damar mengajak seluruh masyarakat untuk memenuhi hak kesehatan seksual dan reproduksi setiap orang," kata Direktur Eksekutif Damar Lampung Sely Fitriani di Bandarlampung, Sabtu.

Menurut dia, isu perkosaan dan kekerasan terhadap perempuan sudah menjadi sebuah krisis global yang terjadi di semua negara di seluruh dunia dan menjadi epidemi yang menghancurkan masyarakat tanpa mengenal kalangan.

Bahkan di Lampung, menurut dia, angka kekerasan terus meningkat.

Sely menyebutkan, dari data tahun 2013, angka kekerasan berjumlah 902 kasus, meningkat menjadi 1.025 kasus pada tahun 2014 lalu.

Dari angka tersebut, katanya, menunjukkan bahwa di Lampung setiap bulan terjadi 85 kasus kekerasan terhadap perempuan, atau dalam setiap minggu terjadi lebih dari 21 kasus kekerasan terhadap perempuan, atau dalam setiap hari terjadi tiga kasus kekerasan terhadap perempuan.

Ironisnya, ujarnya, dari 1.025 kasus kekerasan seksual di Indonesia, usia mayoritas korban adalah 0-17 tahun terjadi sebanyak 547 (53,37 persen) kasus.

Ia mengingatkan, catatan angka kekerasan terhadap perempuan di Lampung menjadi bahan refleksi bersama, dalam upaya mencari solusi penghapusan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan.

Dia mengungkapkan, angka kejadian tindak kekerasan di Lampung banyak "tersembunyi", dan sumber datanya masih terbatas, karena korban enggan melaporkan kejadian kekerasan yang dialami.

Perempuan korban harus mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk mengungkap kasusnya ke publik, ujar Sely.

"Ini merupakan fenomena puncak gunung es. Artinya ini data yang tampak di permukaan saja, dan yang tidak terungkap masih lebih besar lagi. Banyak kejadian yang tidak terpantau oleh media masa, atau lembaga-lembaga yang peduli terhadap permasalahan perempuan, atau tidak dilaporkan karena korban atau keluarga korban tidak berani melaporkan kasusnya karena takut dan malu," Ujar Sely.

Hasil pendataan yang dilakukan Damar, bila dirinci berdasarkan bentuk kekerasan, maka kasus kekerasan seksual merupakan kasus tertinggi yang terjadi di Lampung, yakni 534 kasus, dengan rincian; di lingkup rumah tangga terjadi 12 (1,17 persen) kasus perkosaan, 15 (1,46 persen) kasus perkosaan incest, 6 (0,59 persen) kasus pencabulan.

Di lingkup masyarakat terjadi 210 (20,49 persen) kasus perkosaan, 283 (27,61 persen) kasus pencabulan, 8 (0,78 persen) kasus perdagangan perempuan untuk tujuan eksploitasi seksual.
entuk kekerasan yang kedua setelah kekerasan seksual adalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), yakni 276 kasus, dengan rincian 242 (23,61 persen) kasus penganiayaan terhadap istri, 34 (3,32 persen) kasus kekerasan psikis.

"Seandainya telah ada keberanian dan kesadaran dari korban atau keluarga korban untuk melaporkan tindak kriminal yang dialaminya, tentunya angka kekerasan lebih besar," kata Sely lagi.

Karena itu, pada peringatan Hari Anti-Kekerasan Seksual yang bertepatan dengan Hari Kasih Sayang ini, Lembaga Advokasi Perempuan Damar ingin mengajak seluruh masyarakat agar bangkit, berhenti bersikap tidak peduli serta menolak segala bentuk kekerasan terhadap perempuan.

Pada peringatan Hari Anti-Kekerasan Seksual ini, kami ingin agar semua pihak menjamin pemenuhan, perlindungan, penghormatan Hak Kesehatan Seksual Reproduksi (HKSR) atas otonomi tubuh perempuan, demikian Sely Fitriani.

Hari Anti-Kekerasan Seksual sendiri dimulai sejak tahun 2013, dengan jutaan orang di 207 negara, kembali menyuarakan panggilan global untuk perempuan, laki-laki, semua manusia dalam kesetaraan untuk menghapuskan kekerasan terhadap perempuan.(Ant/Ard) Damar Prihatin Kasus Kekerasan Perempuan Meningkat



Klik! View Mobile Edition

Advertorial