Jumat, 22 November 2019
Home / Demokrasi / Lawan Politik Prabowo Kehabisan Akal

Lawan Politik Prabowo Kehabisan Akal

BANDARLAMPUNG - Isu keterlibatan Prabowo Subianto terhadap penculikan 13 aktivis pada 1998 terus didengungkan oleh lawan politik pendiri Partai Gerindra itu. Meski demikian, banyak pula yang mengklaim isu tersebut merupakan isu murahan yang sengaja digelontorkan untuk menyerang Prabowo.  
Setelah dibantah oleh mantan aktivis Andi Arief, kemarin giliran Koordinator Relawan Prabowo Subianto Untuk Indonesia (Pasti Satu) Mahendra Utama pun angkat bicara.  
Mahe—sapaan akrab mantan Ketua PRD Lampung ini menyebut, dukungan terhadap Prabowo Subianto, kian hebat. Ini merupakan bukti kecintaan rakyat terhadap dirinya. ’’Kenapa isunya nggak diangkat saat dia (Prabowo, red) jadi cawapresnya Megawati. Coba tanyakan dengan yang membuat isu itu. Tanyakan juga, hasil pemeriksaan TGPF,” tandasnya.
Prabowo, sambung Mahe  adalah mantan Pangkostrad pada jaman Orde Baru, figur bekas militer, setidaknya diharapkan mampu memimpin negeri ini dengan tegas dan jujur. Platform ekonomi kerakyatan yang diusung, banyak mencuri simpati.
Sayangnya, tokoh ini masih menyisakan masalah HAM masa lalu saat terjadi kerusuhan Mei 1998 dan penculikan Aktivis saat masa Orba, walaupun sampai sekarang belum bisa dibuktikan.
Jika dikaitkan dengan operasi militer, lanjut Mahe, maka yang paling bertanggungjawab adalah pimpinan tertinggi militer, bukan Prabowo yang waktu itu menjabat sebagai Pangkostrad. ’’Jangan diarahkan ke indivudu Pak Prabowo. Kalau ini operasi TNI ya harus ditelusuri. Ini operasi TNI dibawah Faisal Tanjung. Kalau dikaitkan dengan Pak Prabowo, ini enggak tepat,” sangkalnya.
Dalam posisi ini, Mahe mengaku malas untuk mengurai lebih jauh tentang pembusukan yang dilakukan lawan politik Prabowo. ’’Sudah banyak sebenarnya stetmen yang secara tegas membantah keterlibatan Prabowo. Tapi isu itu terus dilakukan. Seperti mereka kehabisan akal,” tandasnya.   
Mahe pun menegaskan, hingga detik ini tidak pernah ada strategi dari pihak Prabowo untuk meminta dukungan dari para korban pelanggaran hak asasi manusia (HAM) guna memuluskan pencapresan Prabowo. ’’Tidak ada pendekatan seperti itu, coba tanya dengan pihak yang mengaku-ngaku itu,” timpalnya.
Ia justru berharap agar kasus itu benar-benar diungkap sampai tuntas. ’’Kan ada proses hukum. Jadi enggak ada masalah lagi kedepan kalau dibuka. Ya, bagusnya dibuka saja, agar terurai. Dan lawan politiknya itu puas. Nah ayo siapa yang berani membukanya,” timpalnya.
Terpisah Partai Gerindra tak mau ambil pusing dengan kembali digulirkannya isu pelanggaran HAM yang diduga melibatkan Prabowo. Ketua DPP Partai Gerindra, Desmon J. Mahesa, menilai isu tersebut sengaja digulirkan untuk menjelekkan citra Prabowo yang kini maju sebagai capres.
’’Bukan hal baru dan tidak mengagetkan kami. Karena ini isu yang panas mendekati pemilu. Seandainya Pak Prabowo tidak capres ini tidak panas,” kata Desmon.  
Menurut Desmon ihwal kasus tersebut sebenarnya sudah jelas jika Komnas HAM memperhatikan pernyataan Mantan Kepala Staf Kostrad Mayjen (Purn) Kivlan Zen. Kivlan mengatakan bahwa pada saat itu Presiden Soeharto memerintahkan adanya operasi militer untuk mengamankan kondisi negara. Kala itu, Panglima ABRI dijabat oleh Faisal Tanjung.
Ia pun meminta Komnas HAM untuk menelusuri kebenaran peristiwa tersebut dengan mengacu pada pernyataan Kivlan Zen. Sebagai catatan, Desmon adalah salah satu korban pelanggaran HAM, yaitu penculikan aktivis pro demokrasi pada 1997/1998. Namun dia juga pernah menjadi pengacara mantan Komandan Komando Pasukan Khusus (Kopassus), Muchdi Purwoprandjono (Muchdi Pr) dalam kasus Munir. (ful)

INI TERBARU SERANG PRABOWO

1. Mendekati Keluarga Korban Semanggi
Sumarsih, ibu korban peristiwa penembakan mahasiswa di Semanggi 1998, mengaku diminta bertemu dengan calon presiden dari Partai Gerakan Indonesia Raya Prabowo Subianto. Menurut dia, ada seorang lelaki yang mendatanginya pada 18 Maret lalu dan mengatakan Prabowo ingin agar kasusnya diselesaikan."Bapak itu bilang 'Pak Prabowo jadi presiden untuk membersihkan diri, kalau dia jadi (presiden),  kasus ibu akan selesai'," kata Sumiarsih.
Usai mendatangi rumahnya, menurut Sumarsih, lelaki itu beberapa kali mengajaknya datang ke satu restoran untuk bertemu dengan Prabowo. Ia berulang kali menghubungi Sumarsih lewat layanan pesan pendek telepon dan mengatakan akan menjemput Sumarsih. "Tapi saya bilang kalau saya mau datang, saya akan datang sendiri," ujarnya. Sunarsih memutuskan untuk tak datang memenuhi permintaan itu.
2. Dua Kali Bertemu Keluarga Korban Trisakti
Prabowo Subianto bertemu dengan keluarga korban Trisakti 98. Pertemuan itu dilaksanakan usai penyampaian deklarasi dukungan kepada calon presiden Prabowo Subianto dari Forum Alumni dan Mahasiswa Universitas Trisakti pada Sabtu, 10 Mei 2014. Pada itu, beberapa keluarga korban yang hadir antara lain ibu dari Heri Hertanto, Elang Mulia Lesmana, dan Hendriawan. Ketiganya merupakan korban tertembak dalam aksi unjuk rasa pada 12 Mei 1998. Menurut Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadly Zon, pertemuan Prabowo dengan kelurga korban Trisaksti dilakukan di Bandung beberapa waktu lalu.
3. Mendekati Suciwati, Istri Munir
Pendekatan itu dilakukan melalui seorang teman Suciwati yang juga istri anggota Partai Gerindra. "Kami bertemu 15 Mei lalu selama dua jam," kata Suciwati 25 Mei 2014.
Berselang sejam setelah pertemuan itu, kata Suciwati, ia menerima pesan pendek. Isinya, Prabowo menyatakan ingin bertemu. Isi pesan pendek tersebut juga ditulis di laman Twitter @SuciwatiMunir. Suciwati mengaku telah membalasnya lewat cuitan: "akan sangt (sangat) menghargai kl (kalau) Prabowo dtg (datang) ke Komnas Ham drpd (daripada) bertemu dg (dengan) saya.
Diolah Dari Berbagai Sumber Lawan Politik Prabowo Kehabisan Akal


Berita Terbaru
Berita Lainnya


Advertorial